Monday, August 9, 2010
Tuesday, July 20, 2010
Oh .. Tantrum
Yup.. tantrum.
Dulu, waktu sedang hamil Divya, aku emang sudah baca tentang Tantrum di usia menjelang 2 tahun (atau sepanjang usia 2 tahun ya?).
Dulu, waktu sedang hamil Divya, aku emang sudah baca tentang Tantrum di usia menjelang 2 tahun (atau sepanjang usia 2 tahun ya?).
Mulai 'keukeuh' gak mau nurut kalo dilarang. Aku lebih sering ngelarang Divya kalo emang membahayakan buat dia. Contohnya nih, manjatin sofa untuk bisa panjat ke tralis jendela atau panjat tangga putar (dirumahku tempat jemur pakaian di lantai atas pakai tangga tsb) atau ikutan ceklak-ceklek nyalain kompor (aaaarrrgghh.. bahaya banget), dsb.
Intinya sih aku gak mau terlalu ngelarang dia deh, kasian juga kalo sedikit-sedikit dilarang.
Dari segi bicara, Divya sedikiiit sekali dalam penguasaan bahasanya (ini yg bikin aku senewen euy) sampai sekarang dia hanya bisa ngucapin : apa, alo, bapppaaa, papapa, mamam, ayyah dan yang paling sering Emeh (ini kalo dia minta ASI).
Kalo diajak minta tunjukin bagian wajah, dia sudah bisa, nunjukkin mana dirinya dia langsung tepuk dada atau perutnya (hihihi.. so cute), bisa cium tangan, kiss-bye, ciluk-ba, dadah, nari (tangannya diputar2 kalo denger musik).. bermacam gaya dia sudah bisa dan mengerti kalo disuruh.
Nah, timbulnya tantrum itu kalo Divya dilarang (karena ngelakuin salah satu hal diatas tadi) atau di ingin sesuatu tapi dia gak bisa omongin dan kita gak ngerti.
Sebagai ibunya, secara otomatis bisa ngerti apa maunya. Belakangan ini, aku berusaha menyemangati dia untuk pakai kata-kata jika ingin sesuatu. Misalnya, ingin buka tutup botol (plastik), Divya akan teriak-teriak sambil nyodorin dan taruh botol plastik itu di tanganku artinya minta di bukain tutup botolnya. Sebelum aku lakuin apa maunya, aku bilang "BUKA" berkali-kali.
Oh.. minggu lalu ada kejadian yg bikin kepalaku dan suami pusing. Bukan pertama kalinya Divya kami ajak ke acara pernikahan. Acara minggu lalu itu, ada salah satu saudara suamiku menikah. Aku sengaja datang setelah acara akad selesai dan datang menjelang acara resepsi agar Divya tidak terlalu bosan dan gak rewel. Semua perlengkapan Divya sudah siap, Divya sudah kenyang, Siipp... siap berangkat.
Di tempat acara, entah karena satu dan lain hal, acara resepsi telat dari yang telah di jadwalkan. Divya dengan sepupu-sepupunya dan juga beberapa anak kecil yang datang di acara tsb asyik berlarian ke sana-sini. Sampai kita kewalahan karena tamu yg datang sudah mulai banyak. Yang celaka 12 adalah gedung tsb terdapat tangga menuju balkon. Divya paling gak bisa kalo liat tangga, bawaannya langsung aja dipanjat. Naiklah Divya sampai ke atas (aku dan suami gantian menjaga) setelah itu dia ingin ikutan meluncur turun karena lihat sepupunya meluncur ke bawah (such a bad influence!! hate it so much!!). Divya digendong turun sambil mengamuk.
Uuggghhh....
Untungnya kita parkir dekat pintu masuk, Divya kita beritahu di dalam mobil, tapi gak berhasil. Masih teriak-teriak, nendang-nendang bahkan nangisnya sampai sesenggukan. Aku coba kasih cemilan favoritnya gak berhasil, mainannya, gak berhasil juga. Akhirnya Divya baru diam waktu aku kasih ASI. Tapi, itu hanya sebentar, dia inget lagi dan teriak-teriak minta turun. Melihat gedung semakin penuh dengan tamu, kami putuskan untuk pulang daripada cari masalah Divya teriak-teriak karena dilarang gak boleh naek tangga.
Sampai sekarang sih belom berhasil nemu cara supaya kalo dikasih tau Divya gak teriak-teriak sambil nangis kayak disiksa. *sigh* Such a drama queen ..
Tuesday, July 6, 2010
Jangan katakan 'Tidak' buat si kecil
Sekedar sharing dari artikel yang aku baca hari ini. Sumber aku ambil dari SINI
Jangan Katakan 'Tidak' Buat si Kecil
Vera Farah Bararah - detikHealth

(Foto: ehow)
Orangtua biasanya menggunakan kata 'tidak' untuk mendisiplinkan anak. Namun teknik ini seringkali tidak berjalan dengan baik, karena anak lebih sering cuek jika orangtua melarangnya dengan kata 'tidak'.
"Anak-anak seringkali mengabaikan kata-kata tidak dari orangtuanya, dan mungkin orangtua harus mengulanginya sepuluh kali baru bisa mendapat tanggapan dari si kecil," ujar Roni Leiderman, dekan dari Family Center di Nova Southeastern University, Ft. Lauderdale, Florida, seperti dikutip dari Babycenter, Selasa (6/7/2010).
Karenanya dibutuhkan pendekatan lain sebagai alternatif dari kata 'tidak' pada anak-anak usia prasekolah, yaitu:
Mengulanginya dengan kata-kata positif
Menggunakan kata-kata positif untuk meminta anak melakukan sesuatu cenderung bisa ditanggapi dengan baik oleh anak.
Jika si kecil suka bermain bola di ruang tamu, maka jangan menyuruhnya berhenti dengan cara memarahi tapi coba katakn, "Mari kita pergi ke luar untuk bermain bola".
Jika orangtua melarang anak melakukan sesuatu, maka secara tidak langsung anak akan memikirkan hal yang dilarang oleh orangtuanya. Karenanya gunakan kata-kata positif untuk memintanya melakukan sesuatu.
Menawarkan pilihan
Anak-anak usia prasekolah selalu ingin merasa independen dan terkendali. Jadi daripada orangtua melakukan penolakan terhadap keinginan anak, lebih baik menawarkannya sebuah pilihan.
Misalnya dengan mengganti keinginannya dengan barang lain atau boleh mendapatkan yang diinginkan setelah ia melakukan sesuatu. Meskipun mungkin anak tidak senang dengan pilihan yang ditawarkan, tapi anak akan belajar untuk menerima.
Menghindari masalah
Salah satu cara untuk mengganti kata 'tidak' adalah dengan cara menghindari masalah, yaitu memilih lingkungan yang aman untuk anak bereksplorasi terhadap rasa ingin tahunya.
Misalnya menata rumah dengan meletakkan barang-barang berbahaya dan berharga jauh dari jangkauan anak-anak. Meskipun orangtua tidak bisa selalu memberikan lingkungan yang aman, tapi hal ini bisa membatasi orangtua melarang si kecil.
Mengabaikan pelanggaran kecil
Jika anak melakukan pelanggaran kecil tapi ia tetap aman, maka biarkan saja karena orangtua tak selalu harus mengatakan tidak. Orangtua juga perlu memanjakan rasa petualangan dan eksplorasi anak dengan menyenangkan.
Katakan sesuai dengan maksud orangtua
Orangtua bisa mengatakan maksudnya secara jelas pada anak tapi dengan wajah tetap tenang. Jika orangtua misalnya mengatakan "Tidak! Jangan menarik ekor kucing", maka gantilah dengan "Tidak, tidak boleh sayang". Ketika ia merespons berilah ia senyuman dan memujinya "Wah, kamu pendengar yang baik ya". Hal ini akan lebih disukai oleh si kecil.
(ver/ir)
Wednesday, June 30, 2010
Hello (cyber) World.. We're back
Phuih... perlu ikutan diberesin juga nih blognya Divya *bersihin debu sana-sini uhuk..uhukk..*
Lama banget gak update karena emang bukan prioritas pada saat kemaren (bingung kan bahasanya?). Ada hal yang lebih prioritas yaitu nemenin dan bantu-bantu ngurusin Eyangnya Divya yang sakit, jadi aktivitas di dunia maya bukan prioritas lagi saat itu.
Alhamdulillah, sekarang kondisi Eyangnya Divya lebih mendingan daripada waktu pertama kali Divya datang menengok.
Emang bener kata orang-orang, cucu adalah obat ampuh bagi kakek/nenek yang sedang sakit. Dari bulan April hingga kemarin, aku dan Divya ada di Cirebon. Eyangnya Divya emang beraaaattttt banget mau ngelepas Divya pulang ke Depok. Belom apa-apa sudah ditanyain "kapan balik lagi?", "nanti kalo balik lagi jangan cuman sebentar, yang lama lagi ya" atau "udah kamu kerja lagi aja, Divya biar disini nemenin Eyangnya"
Haiyaaaaaaaaa.....
Aku dan suami sudah siap-siap ngatur jadwal kira-kira kapan aku dan Divya tinggal lebih lama lagi di Cirebon. Karena pasti akan 'ditagih'.
Sabar ya Eyangnya Divya... Soalnya harus bagi-bagi 'jatah' kunjungan antara Eyang yang di Cirebon dan di Jakarta.
Tuesday, May 4, 2010
..libur ngeblog..
halo semua..
wah, untuk sementara harus libur dulu nih nge-blognya.
selain koneksi internet yang seriiiiiiiiiiinnng ngambek (dan musti ganti provider keliatannya), banyak hal yang buat ibun untuk libur sementara nge-blog.
padahal buanyaak banget yang kepengen ditulis.
nunggu waktu (dan koneksi internet yg stabil) supaya ibun bisa ceritain perkembangan divya.
sampe ketemu lagi ... secepatnya!
Monday, April 5, 2010
Nah.. ketauan penyebanya!
Setelah nebak-nebak apa yang sebenernya yang bikin Divya gak ada interaksi, baru dapet jawabannya pas Divya ke dokternya hari Sabtu kemaren. Sang Pak Dokter, Irawan M, yang kebetulan ahli syaraf, dengan sabar mau ngedengerin 'laporan'-ku yang rada panjang tentang Divya.
Divya diperiksa pendengerannya dan katanya sih gpp. Jadi suamiku disuruh manggil nama Divya daan seperti biasa, Divya gak nengok. Dia gak nengok s.a.ma.s.e.k.a.l.i *huks* Yang ada dikepalaku saat itu adalah hasil pemeriksaan yg paling terjelek deh.
Dicoba beberapa kali dan Divya tidak juga bereaksi dan tidak ada interaksi.. Kalo sudah begini rasanya aku sebagai ibunya yg ngerasa paling bersalah sampai anak jadi begini.
Lalu Pak Dokter mulai mewawancarai kami sebagai ortunya. Karena sehari-hari Divya aku sendiri yg pegang (dirumah memang tidak punya asisten). Aku menjawab pertanyaan yg Pak Dokter tanyakan.
Ujung-ujungnya tentang nonton. Waktu ditanya berapa lama Divya dibolehkan nonton? Wadoh.. aku gak bisa jawab, yang aku jawab "dia hanya dibolehkan nonton kartun kok, Dok". Tapi, aku gak menjawab pertanyaan Pak Dokter.
Akhirnya aku 'mengaku dosa', TV dijadikan 'pengasuh' sementara aku bisa ngerjain beberapa kerjaan rumah tangga. Aku ngerasa kebantu banget. Tapi dampaknya pada Divya ... Bener deh aku gak mikirin hal ini.
Jadi, hasil observasi Pak Dokter. Divya itu sudah terpuaskan visualnya sehingga dia menjadi anak yang Pasif dan itu menghambat perkembangannya. Yang harus dilakukan : Puasa nonton. Segala tontonan deh pokoknya. Baik dari TV ataupun film-film anak favoritnya. Berapa lama? Sampai Divya mau berinteraksi dengan
Yang dianjurkan : mendengarkan lagu, meniup dan menyedot sedotan (sampai sekarang Divya belum bisa minum pake sedotan). Belajar bicara depan kaca dan lebih dibanyakin lagi baca buku.
Hari ini adalah hari ke #3 Divya puasa nonton. Aku sebagai ibunya juga belajar untuk mencari kegiatan untuk Divya tanpa TV. Beberapa kali Divya bolak-balik liat ke TV berharap aku mau memasangkan acara favoritnya. Maaf ya Nak..
Divya jadi lebih rewel dan cengeng. Aku sih liatnya seperti dia sakaw nonton gituuu. Kasian. Imbasnya, aku gak boleh jauh dari dia sedetik pun. Bahkan ke kamar mandi, Divya bisa nangis sesenggukan. Karena mungkin dia baru 'ngeh' kali ye kalo dia sendirian. Padahal sudah dikasih mainan dan bukunya.
Jalan masih panjang nih... doakan semoga Divya bisa berinteraksi seperti anak-anak lainnya ya....
Oiya.. aku sedang ngumpulin semua kegiatan untuk anak-anak tanpa TV (TV free activities), kalo ada yang mau kasih usulan boleh banget sekalian gimana caranya ngajarin anak untuk mau bicara ya?
Tuesday, March 23, 2010
My lovely Divya
Hari ini, Hana (anak adikku yang lahir di hari yang sama dengan Divya - hanya beda beberapa jam saja) datang ke rumah (tentu saja datang dengan ibunya - yaitu adikku dan pengasuhnya). Wah, kesempatan bagus nih. Karena, rada susah untuk nyocokin agenda untuk ketemuan atau saling berkunjung ke tempat masing-masing. Hasilnya, ya gini deh. Jadi jarang ketemuan padahal tinggal di satu kota.. Dilema tinggal di kota metropolitan.
Waktu Hana datang, Divya sedang tidur (setelah main, Divya biasa tidur jam 10 atau 11 pagi s/d jam makan siang). Melihat perkembangan Hana, aku jadi minder dengan perkembangan Divya. Setelah Divya bangun dan ngumpulin nyawa, Divya masih perlu waktu lama untuk mau ngeluarin suaranya (kecuali nangis - yg ini gak dihitung).
Setelah hampir 2 - 3 jam, Divya dan Hana akhirnya main berdua. Lari sana - lari sini. Duduk berdua di pojokan (segala pojokan yang ada di rumah deh). Nah, Divya baru mau ngeluarin suara "pa-pa-pa".. "ddddd".... "bbrrrrrrrr" (nyemburin ludah kalo yang ini)
Suaranya Divya kecil, kalah dengan suara Hana yang keras, melengking.
Aku iri melihat perkembangan Hana.
Aku minder lihat kepintaran Hana yang aktif merespon perintah yang diberikan atau menirukan sesuatu.
Aku sedih melihat betapa 'jomplang'-nya perkembangan Divya dan Hana.
Aku merasa gagal dalam mendidik Divya.
Arrrrrrrrrrrrrrrrrrggggggggggggggggghhhh....
Hampir seharian Hana dirumahku. Semakin sesak rasanya melihat jauhnya perkembangan antara Divya dan Hana.
Dari postur tubuh, Divya sekarang lebih kurus - apakah aku tidak cukup memberikan makan?
Dari segi merespon ucapan, Divya tidak merespon - pasti karena aku yang tidak mengerti cara mengajarkan kepada Divya cara merespon
Dari segi mood Divya, Divya lebih pemurung, pendiam dan terkesan bosen, - oh betapa bersalahnya aku membuat putri tercintaku pemurung, pendiam hingga bosen..
Arrrrrrrrrrrrrrrrrgggggggggggggggggggggghhhh..........
Biarpun begitu, aku bersyukur telah diberikan anugerah terindah dalam hidupku. Divya namanya.
Biarpun banyak hal yang 'ketinggalan', di mataku Divya tetap cahaya hidupku yang tak kan pernah redup.
Apa pun kondisinya, aku bersyukur Divya bisa selamat hingga detik ini.
Apa pun kondisinya, aku akan selalu ada untuk Divya hingga dia bisa mandiri nanti..
I love you always, my Divya...
Subscribe to:
Posts (Atom)